15 JULI 2020
Pasien TBC Mendapatkan Penanganan Khusus

Sumber: Diskusi santai LAPK bersama medandeli.com dan Anggota DPRD Sumut, Ikrimah Hamidy dan Verifikator Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kota Medan, dr Erwin. di Ten Coffee. (medandeli/puanmafa)

Pasien TBC Mendapatkan Penanganan Khusus

Diskusi bertema "Sudah Baikkah Pelayanan Kesehatan Kita?" bersama lembaga advokasi dan perlindungan konsumen (LAPK) dan medandeli.com berlangsung di bawah hujan, Rabu (25/4).

Bertempat di TEN Coffee Jalan Imam Bonjol Medan, sejumlah peserta pun begitu antusias berdiskusi dengan narasumber dari BPJS Kota Medan, Verifikator Penjaminan Manfaat Rujukan, dr Erwin dan Anggota DPRD Sumatera Utara, Ikrimah Hamidy dan pembaca acara, Padian Adi Siregar, Sekretaris LAPK.

Seorang peserta, Irsan Ramadi menyebutkan banyak pasien yang terkena penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis (TBC). Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara tertinggi setelah India yang menderita TBC.

"Apakah ada jalur khusus untuk penderita TBC dalam pengurusan kesehatannya. Karena jika mereka harus mengantre dan menunggu, bisa berakibat menyebar ke orang lain. Kami telah mengumpulkan ribuan dahak dan mendapati, 9600 orang terserang TBC, itu baru data sejumlah daerah di Sumatera Utara,"ungkap Irsan.

Menyikapi hal itu, dr Erwin menyebutkan bahwa pemerintah daerah juga dapat mendaftarkan pasien penderita TBC yang kurang mampu sebagai peserta JKN agar dapat dicover oleh jaminan kesehatan nasional (JKN)

"Saya harap bagi peserta yang belum mendaftar, segera lakukan. Jangan menunda, jangan tunggu sakit dahulu. Peserta kalau ada masalah juga silakan datang ke BPJS dan kami berusaha membantu,"ucapnya.

Jika berhalangan datang ke kantor bisa menghubungi pihak BPJS di nomor 1500-400. Maka peserta akan dilayani oleh Agent Care Center, rekaman pembicaraan antara calon peserta dengan Agent akan menjadi bukti pendaftaran.

"Itu resmi, dan setiap Keluhan pun harus segera kami tindaklanjuti,"ungkap dr Erwin.

Sementara itu, Ikrimah Hamidy menyatakan telah lama mengetahui perihal banyaknya pasien TBC di Sumatera Utara dan Indonesia. Ikrimah sedih melihat dinas kesehatan di kabupaten/kota masih santai.

"Nanti kalau sudah kejadian baru ambil tindakan. Tapi antisipasi dari mereka minim sekali. Jika ini dibentuk dalam peraturan daerah harus membahas tentang kesehatan daerah. (raden)

 

Komentar